05 June 2017

Penyair Daif

Assalamulaikum
Bismillah

Hati aku terusik, saat ada yang mula menyentuhnya dari dasar tanpa sedar. Kau yang aku sama kan dengan pencuri dalam diam. Ada waktunya aku selongkar kamar itu dek kerana kecelaruan yang perlu aku cari apa punca sepertamanya.

Kadang juga, secangkir kopi dalam sebuah ruang yang tersesat belum membolehkan kita sehaluan angin yang menghentam. Adakala, pertelingkahan itu perlu bagi menyantumkan sebuah sketsa.

Hati kau diketuk sang beduk yang memanggilmu dalam doanya. Dibelai dengan kasih yang tulus belum dapat membuatmu sayang. Andai hati punya yang satu, datang beribu insan belum tentu hati kau boleh direntap.

Lakonan hari ini yang kau bawakan, konon mampu menarik perhatian dunia. Tapi kau lupa, manusia memandang pada sesuatu yang bodoh. Bukan dari kisah yang benar tapi dari lukisan lakonan yang diadaptasi.

Malam demi malam, lakonan itu kau bawa..kau cipta manusia baru. Mungkin untuk menyempurnakan mimpi malam mu kelak atau sekadar angan-angan yang punya batas. Satu demi satu babak kau cipta untuk membuat hidup mu kelihatan tragis!

Dalam sanubarimu, ada luka yang bertahun kau kuburkan..meski itu membuatmu sakit tapi kau masih memilih utuhnya sebuah kesetiaan dan penantian. Ada waktunya kau bodoh dilihat diri, ada waktunya kau lalai dengan masa dulu.

Ada waktu aku tertanya sampai bila, kau harus menjadi seorang penyair yang terus menerus menyair di hati manusia lampau, mengheretmu ke lembah yang lebih menyiksa. Dibiar hatimu dirobek kisah masa lalu dan itu adalah kamu, manusia tanpa menyerah tapi dipandang daif!


No comments:

Post a Comment